Daftar Blog Saya

Rabu, 11 April 2012

sepasang Pohon Jambu Biji

Aku sedang berbaring di salah satu kamar rumah orangtua ku. Sebuah kamar dengan pintu langsung ke luar menghadap timur, tanpa ada jendela. Sebuah rumah kayu dengan dinding bilik yang pada siang hari sering terlihat cahaya matahari memaksa masuk menerobos ke dalam rumah. Sebuah fenomena yang sering menarik perhatian ku.

Dari sebelah selatan terdengar suara riang anak-anak sedang bermain. Ketika mata ku sedikit terbuka. Cahaya matahari memaksa masuk dari sela-sela lubang kecil bilik dan pintu yang sedikit terbuka. Satu cahaya menerpa mataku. Mata ku memincing karena silau.

Di sebelah kiri, pintu masuk yang tanpa daun pintu terlihat cahaya terang masuk darti jendela di ruang tengah yang menghadap utara.

Aku bangkit dari berbaring ku dan beranjak menuju pintu yang menuju ke luar yang sedikit terbuka dan au buka lebar-lebar. Tanpak lah sepasang pohon jambu biji, satu di utara dan satu di selatan, mengapit tiga pohon cengkih yang jauh lebik tinggi. Seingat ku dua pohon jambu biji itu sudah ada sejak aku belum sekolah. Mungkin sudah ada sejak aku belum lahir. Walau pun ketiga pohon cengkih yang yang tumbuh ditengah diua pohon itu lebih tinggi, tapi aku masih ingat ketika ayah menanam ketiga bibit pohon cengkih itu beberapa tahun yang lalu. Kalau tidak salah ayah mendapatkan bibit cengkeh itu dari Mang Tisna yang tinggal di sebelah selatan.

Tapi mengapa rumah ini sepi sekali? Tak ada suara ayah, ibu, kakak-kakak, dan adik ku. Tidak pula terdengar suara aktivitas mereka. Sedangkan suara anak-anak yang sedang bermain masih terdengar sayup-sayup. Tapi entah dimana!


Setelah menutup pintu keluar, aku keluar dari kamar dan menuju ruang tengah. Tak jauh dari pintu, aku menghadap jendela dan menyapukan pandangan ke utara. Mata ku menjelajah tiap sudut. Masih seperti dulu.

Di depan adalah sebuah gang lurus dengan deretan rumah di kanan kiri. Di kiri ada rumah Pak Makmur bersambung dengan rumah yang entah siapa pemiliknya sekarang, rumah Ujang Rosid teman SMP ku dan masjid, atau tepatnya sebuah mushola kecil tempat aku belajar mengaji dan bercanda ketika sedang solat tarawih di bulan Ramadhan. Kemudian beberapa rumah yang sekarang penghuninya sudah tiada, dan berakhir di sebuah kebun milik Ma Anah. Sedang kan dibalik kebun yang dipagara kayu tinggi adalah sebidang tanah yang dulunya milik Ma Anah juga. Tempat dulu aku bermain.

Aku masih ingat dulu ditengah bidang tanah itu ada sebuah pohon kemiri yang besar dan tinggi. Batangnya yang menancap kuat ke bumi besarnya menandingi tubuh seekor kerbau.



Pernah suatu hari waktu hari sedang gerimis sehabis hujan besar, aku, kakak ku dan teman-teman lainnya bermain di sana. Gerimis dan udara dingin yang menggigilkan tubuh kami tidak kami pedulikan. Kami sibuk mencari kemiri yang jatuh dari pohonnya, dan setelah menemukannya dengan susah payah kami memecahkan cangkang dan tulangnya yang sangat keras, kemudian kami memakannya.

Entah sudah berapa ons daging kemiri masuk ke dalam perut kami, tapi yang terang ketika aku sampai ke rumah, kepalaku pusing-pusing bak mabuk laut. Perutku terasa diaduk-aduk dan berakhir dengan keluarnya seluruh isi perutku, yang sebagian besar adalah pecahan-pecahan kemiri yang tidak tercerna dengan sempurna.

Tapi setelah tanah itu berpindah tangan, pohon kemiri yang merupakan pohon terbesar dan tertinggi kedua di kampung kami itu sudah rata dengan tanah —pohon tertinggi pertama adalah sebuah pohon Lame yang berdiri kokoh di tengah pekuburan yang tidak begitu luas, pohon itu masih bisa terlihat dari jarak belasan kilo meter. Dan sebagai gantinya, berdirilah sebuah rumah yang terbilang cukup mewah untuk ukuran kampung kami waktu itu.


Di sebelah kanan gang adalah deretan rumah keluarga Nenek Limah dan beberapa rumah lainnya yang juga sudah berpindah tangan ke orang dari luar kampung kami.


Ku sapukan mata ku lebih ke kanan dan pohon jambu biji dan salah satu pohon cengkih pun terlihat. Beberapa butir jambu yang sudah mendekati matang, dan dua tiga butir yang sudah berwarna keemasan masih tersisa. Rupanya musim jambu biji baru saja berakhir. Tapi biasanya sisa jambu setelah musimnya berakhir justru lebih lezat dan lebih manis rasanya.


Ku balikan badan dan berjalan menuju tepas (ruang tamu). Belum sampai di tepas aku sedikit merubah arah ke sebelah kanan menuju kamar kakak ku yang kosong. Masih seperti dulu. Dipan kayu kecil dan selimut penghangat tubuh di malam hari masih ada di sana.


Aku terus berjalan menuju jendela. Oh, ya kamar yang satu ini terbilang “mewah”. Selain posisi nya dekat ruang tamu kamar ini memiliki jendela yang bisa dibuka tutup seperti yang terdapat di ruang tengah. Keadaan masih tetap sama seperti lebih dari duapuluh lima tahun yang lalu. Di depan mata adalah sebuah jalan setapak yang menghubungkan rumah penduduk dengan jalan desa yang jaraknya cuma puluhan meter ke jalan desa itu.


Di sebelah kanan adalah rumah Ua Ace, dan di seberang jalan setapak adalah sebuah kebun yang digarap ayahku Walau pun ayah tidak menggarap kebun itu secara professional.. Sedangkan pemiliknya tinggal beberapa kilo meter dari rumah kami.


Setelah beberapa saat mengamati, aku keluar dari kamar dan masuk ke ruang tamu. Tampaklah beberapa buah kursi kayu dengan kombinasi rotan yang sangat sederhana menghiasi ruang tamu. Ku teruskan menuju pintu. Ketika pintu terbuka, terhirup lah udara segar dan dingin. Kayaknya sedang musim hujan. Walau pun tidak sedang hujan aku bisa melihat tanah yang basah dan pohon-pohon dan tanaman lainnya yang subur menghijau.


Ku langkahkan kaki menuju jalan setapak dan berbelok ke kiri. Beberapa langkah saja dan aku sudah sampai ke dekat pohon jambu klutuk yang menjadi saksi perjalanan hidupku dari sejak aku lahir sampai aku menjelang dewasa. Belum apa-apa, manis dan lezat nya buah jambu biji sudah sampai di bibir dan lidah ku. kesegaran dan kenikmatan menjalari tenggorokanku.


Seperti pohon yang di sebelah utara pohon yang ini pun masih menyisakan beberapa butir jambu yang sudah layak dipetik. Butirannya tidak begitu besar-besar. Dan memang seigat ku pohon yang ini buahnya tidak sebesar yang di sebelah utara. Tapi soal rasa? Tidak kalah!


Aku tidak tahan dengan godaan untuk menikmati keseksian buah dari pohon yang sudah menjadi temanku sejak aku ingat hadir di dunia ini.


Tak memerlukan banyak tenaga untuk memanjat pohon itu karena memang pohon itu tidak begitu tinggi. Beberapa hentakan saja dan aku sudah berdekatan dengan jambu-jambu yang dari tadi menerbitkan air liur ku itu.


Ku raih satu yang masih hijau kekuningan. Tanpa dibersilkkan langsung ku masukan ke mulut, ku gigit, dan ku kunyah. Hmmm… nikmatnya masih seperti dulu. Rasa manis dipadu sedikit asam menjalar ke seluruh tubuh ku. Dua butir jambu ukuran sedang sudah memenuhi rongga perutku.


Aku sudah kembali turun dan sudah di bawah pohon kemudian berjalan menuju ke utara. Tiga buah pohon cengkih yang sedang berbunga tapi belum waktunya untuk dipanen sudah terlewat dan sekarang aku sudah dekat pohon jambu lainnya. Pohon yang ini memang lebih tinggi dari yang di sebelah selatan karena memang kelihatannya berumur lebih tua.


Dua butir jambu yang sudah menghuni perutku tidak mampu menyurutkan kerinduan dan dahaga ku akan masa kecil ku. Tidak menunggu lebih lama, aku memanjat dan sudah duduk di sebuah cabang kemudian terdiam sejenak untuk mengenang masa kecil ku dimana aku sering melakukan hal yang sama di pohon dan cabang yang sama.


Ku tengok ke arah kiri dan terlihatlah sebutir jambu yang lumayan besar. Rupanya seekor kelelawar telah meninggalkan jejak di jambu dan ikut merasakan nikmatnya buah itu. Beberapa bekas gigitan terlihat di beberapa bagian buah itu. Biasanya jambu yang telah digigit kelelawar akan cepat matang. Aku pernah mencoba untuk membuktikan teori itu beberapa kali. Aku pernah mencoba menggigit jambu yang masih hijau dan dua tiga hari kemudian hasilnya sudah terlihat. Jambu itu menguning dan kemudian matang.


Ku raih jambu itu dan setelah menemukan bagian yang tidak ada bekas gigitan kelelawar, ku gigit. Kenikmatan memenuhi rongga mulutku. Terima kasih kelelawar. Kau telah menyisakan kenikmatan ini untuk ku.


Beberapa saat kemudian kakiku sudah menginjak tanah. Satu hal masih menjadi tanda Tanya bagiku. Tidak terdengar suara orang bicara dan terlihat siapa pun padahal gang dekat pohon jambu ini sering dilalui orang dari dan menuju jalan desa. Tapi keadaan lingkungan sama persis seperti lebih dari duapuluh lima tahun yang lalu.


Langkah kaki ku membawa ku ke warung Ceu Titi. Di warung Ceu titi sedang menggoreng bala-bala (bakwan), makanan yang jamak menjadi jajanan di kampung ku. Dia melirik ku. Tidak ada keterkejutan di matanya ketika melihat ku. Apa di matanya aku masih terlihat seperti anak umur belasan tahun?


“Ceu, beli bala-balanya,” kata ku. “harganya berapa?


“seratus rupiah”, timpalnya.


Seratus rupiah? Sebuah harga yang di tahun 2012 ini tidak mungkin. Rata-rata harga bakwan sekarang sekitar seribu rupiah dan masih bisa lebih. Ada sih pedagang yang masih menjualnya dengan harga limaratus rupiah, tapi ukurannya tidak jauh beda dengan kelereng mainan anak-anak.


Aku bermaksud membeli dua atau tiga biji saja, tapi mengingat harganya yang cuma seratus perak, sekarang aku bermaksud beli 10 biji. Ketika ku rogoh saku celanaku di tangan ku adalah pecahan dua ribuan. Pecahan uang yang dua puluh tahun yang lalu hal yang mustahil. Sekarang aku menjadi ragu. Apakah dia akan menerima uang abad-21?


Dalam keadaan bingung, dan belum sempat sebuah bala-bala pun ku cicipi, tiba-tiba aku merasa sedang berbaring. Cahaya matahari memaksa ku memncingkan mata. Dan ketika mataku terbuka ternyata aku aku sedang di ruang depan rumahku, berbaring di atas selembar karpet.


Subhanalloh. Terima kasih ya Allah. Kau telah membawa ku kembali ke masa kecil ku. Ke tempat yang paling ku rindukan. Walau pun sekarang rumah dan kampung masa kecil ku sudah berubah sama sekali. Tapi kenangan indah itu tak akan lepas dari garis kehidupan ku.


Alhamdulillah!


Jakarta 29 Maret 2012


Rabu, 02 Maret 2011

Gadis Belia itu selalu di jemput Om-om

Mona adalah seorang anak sekolah yang cantik dan menggemaskan. Dia selalu berpakaian “sexy”. Ketika berangkat sekolah roknya selalu pendek. Saking pendeknya, sedikit saja dia. Maaf, nungging, tak ayal lagi CD (bukan compact disc) nya terlihat jelas sejelas jelasnya. Tak jarang dia berlaku centil atau kenes. Banyak orang yang senang sekedar menyapa dan mengagumi dia waktu dia berangkat menuju sekolah.


Akhir akhir ini dia sering diantar jemput oleh Om-Om. Tak segan Mona dan Om Om itu bergandengan tangan bahkan peluk cium secara demonstratif tanpa merasa risih dengan tetanggadan siapa saja yang menatap dari jauh.


Yang mengherankan, para tetangga tak merasa terganggu dengan kenyataan ini, dan orang tua nya pun kayaknya tenang tenang saja.

Apakah ini sebuah pertanda zaman yang sudah edan parah? Apakah masyarakat semakin permisif dengan hal-hal yang, setidaknya, di zaman nenek dan kakek mereka dianggap tabu?


Tidak, tidak seperti itu. Saya yakin anda akan berfikir berbeda jika saya tulis berbeda sebuah terminology di atas. Di atas saya tulis “Om-om”. bagaimana kalau saya tulis “Om” saja. Atau saya tulis saja seorang “paman”. Dan satu kata kunci lain yang saya tutupi saya buka lebar ; Mona adalah seorang anak TK.

Saya menulis ilustratasi di atas untuk membuktikan (yang mungkin tak terbukti) dalam penggunaan bahasa jika suatu kata ditulis atau dpengucapannya diulang akan bermakna negatif atau setidaknya tidak begitu menyenangkan.


Dalam illustrasi di atas saya tulis Om-om. Istilah itu dalam kehidupan kita diartikan sebagai orang tua yang suka melakukan hal yang kurang atau tidak terpuji. Mereka menyenangi perempuan perempuan muda untuk dijadikan obat awet muda walau pun biasanya mereka berperut buncit yang tidak menggambarkan profil orang muda sama sekali.


Begitu pun dengan tante-tante yang bermakna kurang lebih sama dengan Om-Om. Cuma yang ini kedoyanannya lelaki muda.


Kalau seorang perempuan usia 25 - 30an dikatakan seperti seorang ibu, apalagi keibuan kemungkinan dia tidak merasa “tidak enak”. Bahkan mungkin dia merasa bangga. Tapi coba saja dia disebut seperti ibu-ibu, mungkin reaksi dia akan berbanding terbalik. Atau lelaki dengan rentang usia yang sama dipanggil kebapakan akan berbeda reaksinya dengan dipanggil seperti bapak-bapak. Begitu pula kakek-kakek, dan nenek-nenek walaupun reaksi mereka tidak akan seresistan orang yang lebih muda.


Bagaimana dengan anak-anak?


Kesimpulannya adalah untuk beberapa kata, terutama yang dalam kasus ini yang ada hubungannya dengan pangilan, satu kata berarti netral atau baik, diulang berarti negatif.


Tapi tentu saja banyak juga kata yang diulang tapi tidak mengisyaratkan sama sekali arti negative. Wallohu a’lam bissawab.


Catatan: Ilustrasi yang saya gunakan di atas pertama kali saya dengar dari seorang kawan yang sekarang menjadi penerus jejak lacak Oemar Bakri yang sekarang tinggal dan menekuni karirnya di Tangerang. Dan gambar di atas bukan foto Mona. he he he ...

Sabtu, 16 Oktober 2010

Anak Ku (5 th) Minta Dibelikan Kondom


Menyadari kalau diri ini bukan termasuk kategori manusia cerdas, saya berharap generasi di bawah saya akan melebihi generasi di atasnya dalam hal kecerdasan. Itu lah sebabnya ketika mendapatkan kepercayaan dari Sang Penguasa jagat raya dan seisinya untuk mendapatkan keturunan demi berkesinambungannya keturunan Adam, saya berdoa pada Sang Pencipta agar keturunan saya itu dikarunia kecerdasan. Ya, kalau saya tidak sempat menjadi manusia cerdas, saya akan tetap berbahagia memiliki penerus yang tidak mewarisi ketidakcerdasan Ayahnya.

Tidak, saya tidak sedang meratapi nasib diri karena menjadi orang tidak cerdas. Walaupun menyadari ketidakcerdasan diri, tapi saya tidak terlalu bodoh untuk mengkufuri apa yang telah Allah berikan. Saya yakun Allah maha tahu apa yang pantas dan tidak pantas saya dapatkan.

Mungkin, ini Cuma mungkin, kalu saya deberi kecerdasan oleh Sang Murbeng alam, tenaga saya tidak akan mampu memikulnya. Maka kecerdasan itu akan mengombang ambing saya ke sana kemari, kemana dia mau.

Mungkin saja dia membawa ku ke gemerlap kemewahan duniawi dan menyebabkan aku memanfaatkan kepintaran ku untuk minterin orang, mengutak atik angka supaya angka angka itu masuk ke rekening pribadi saya atau konco saya padahal itu haknya rakyat negeri. Atau kecedasan ku itu dimanfaatkan untuk menggerogoti jembatan, jalan tol, dan banyak lagi jenis proyek yang berbau harum dan mengundang sahwat perut orang-orang cerda yang tak kenal kata kenyang.

Bukan, keerdasan anak saya bukan untuk mencari kemewahan gemerlap dunia atau untuk mempertebal kulit penutup usus, dan teman-teman nya. Saya berharap kecerdasan yang ia dapatkan kelak akan berguna bagi dia sendiri dan juga orang-orang desekelilingnya sebanyak yang dia mampu usahakan.

Harapan yang lama tersimpan dalam angan ini aku kejawantah kan dalam doa, dan nama yang keberikan padanya pun adalah sebuah do’a. Ya, kupanggil dia Kinanti Nabiila Puteri.

Kinanti adalah sebuah nama untuk satu jenis seni tembang dalam kesenian sunda. Kinanti merupakaian n salah satu dari 17 Pupuh sunda. Engapa tidak Magatru atau dangdanggula, itu juga kan bagpupuh? Aku pilih Kinanti karena terasa lebih enak didengar untuk nama seorang wanita, karena kalau anak saya laki laki akan ku beri nama Asmarandana. Nabiila secara literal berarti cedas, dan Puteri berarti seorang wanita yang memiliki sifat-sifat yang seharusnya dimiliki seorang wanita. Jadi arti dari namanya adalah sebuah doa agar dia memiliki kecerdasan yang berseni dan tidak melupakan kodratnya sebagai wanita.

Apa kah do’a ku terlalu sempurna? “Ud’uni Astajib lakum”, itu lah yang diperintahkaNya. UntukNya tidak ada yang terlalu bagus atau terlalu sempurna. Kun Fayakum! Maka jadi lah.

Tapi ternyata tugas membesarkan seorang anak supaya menjadi cedas tidak lah gampang. Hal yang peling berat adalah setiap hari kita dicecar pertanyaan yang tidak pernah terputus. Ya, seorang yang tidak begitu cerdas, tapi disebuat bodoh juga emoh, harus menjawab pertanyaan yang tidak terpikirkan sebelumnya, dan harus memuaskan dia. Whalah..whuh (sambil membuang keringat di dahi).

Kasus terahir yang membuat saya dan istri saya kelimpungan adalah ketika kami sedang belanja di sebuah mini market. Setelah selesai memasukan belanjaan ke dalam keranjang, kami siap-siap bayar di konter pembayaran. Ketika sedang antri, mata anaku terpaku pada sebuah kemasan plastik yang berwarna menarik. Secara replek dia mengambil benda itu dan meminta pada ibunya untuk membelikan satu. Ibunya dan saya terkejut, dan secara serta merta saya menjelaskan bahwa benda itu untuk orang dewasa bukan untuk anak-anak.

Dengan jawaban yang kami berikan, kami berharap masalah akan selesai, tapi jawaban yang diberikan tidak cukup memenuhi ruang dalam otaknya yang tak tahu seberapa besarnya. Otak itu masih meminta penjelasan yang lebih masuk akal bagi dia.

“Benda itu untuk orang dewasa yang sudah menikah. Anak-anak tidak boleh memakai benda itu. Orang dewas pun kalau belum menikah tidak boleh memakai benda itu.” Begitu lah penjelasan yanag kami mampu berikan, tapi nampaknya dia masih penasaran.

“Kenapa tidak boleh?”, itu lah pertanyaan dia yang merupakan PR untuk orang tuanya. Demi solidaritas antara orang tua, Om dan tante, kakek dan nenek dan sebagainya yang menginginkan kecerdasan bagi anaknya, ponakannya, dan cucunya, saya dengan sangat memohon bantuannya untuk dapat memuaskan dahaga keingintahuan anak saya, mungkin juga anak-anak lain nya yang pernah menanyakan pertanyaan serupa.

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih. Jazakallohu wa jaza. Wa Jaza an’jaziila.

Kamis, 05 Agustus 2010

Mr. Amat Kena Tilang


Waktu masih menunjukan jam 10 WIB ketika Si Amat sedang bersiap siap pulang kerja. Ya untuk hari itu dia tidak punya kerjaan lagi untuk dilakukan. Segera dia menuju tempat parkir untuk menjemput kendaraan kesayangannya. Ya, hari itu dia mengendarai sepeda motornya. Tadinya dia mau mengendarai mobil impiannya tapi karena mengejar waktu maka dia memakai kendaraan anti macet nya. Lagi pula mobilnya akan di pakai ke pasar sama pembantunya untuk belanja nanti siang.


Oh ya. Sebelum saya lanjutkan cerinya, saya akan mengulas sedikit tentang si Amat ini. Seperti kita maklum Si amat adalah seorang pesohor. Dari mulai anak anak bau cingur sampai orang jompo bau tujuh rupa mengenal si Amat, walau pun mungkin mereka tidak mengakui tidak menyadarinya. Tidak menyadarinya? Kok bisa? Ya, bisa, lah!


Jangan terkejut kalau anda juga sangat megenal dia! Atau setidaknya anda sering mengucapkannya. Mungkin tiap- hari.


Ya, begitulah nasib si Amat. Dia terkenal tapi tidak mendapatkan keuntungan dari keterkenalanya. Tidak seperti Shinta dan Jojo, misalnya, yang mendadak dangdut, eh, terkenal hanya karena tuah Keong Racunnya.


Perhatika ungkapan berikut: “bagus amat gambarnya”, “kok begitu amat, sih, ceritanya”, “nggak, dia nggak bagus bagus amat”, “ sepia amat sih. Orang orang pada kemana?”.


Ungkapan yang miring ke kiri dan ke kanan pun sering membawa bawa nama Si Amat, "Kampungan amat, sih!", "nyebelin amat, tuch orang", "mengerikan amat!".


Tidak kah ungkapan-ungkapan di atas menunjukan bahwa si Amat banyak dikenal atau setidaknya banyak di ucapkan namanya. Masih ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan ungkapan yang membawa bawa nama Si Amat. Apa anda setuju si Amat orang terkenal? Nggak? Yah, terserah anda, lah, kareana itu sebenarnya nggak penting-penting amat.


Walau anda mungkin tidak setuju, saya tetap memberi apresiasi terhadap keterkenalan si Amat dengan tidak lagi menyematkan label “Si” di depan namanya. Sekarang saya akan memanggil dia dengan title bari Mr. Amat.


Kembali lagi ke cerita semula tentang Si, eh, Mr. Amat. Setelah agak kesulitan menstater kendaraan roda duo maya nya. Ahirnya dia berhasil juga. Ketika motor nya menyalak di pun berteriak, “berhasil, berhasil, berhasil”. Oh, ya. Saya lupa menginformasikan bahwa Mr. Amat juga fan beratnya Dora. Tanpa menunggu lama dia pun meluncur menuju rumah.


Di persimpangan yang sebetulnya sering dia lewati dia salah belok dan memasuki jalan yang berlawanan arah. Ketika dia sedang melaju kencang sebuah sepeda motor dari arah yang berlawanan mengibas ngibaskan tangan seperti yang biasa dilakukan hakim garis ketika melihat salah satu pemain off-side. Semula dia nggak mengerti bahkan mengira orang itu iseng saja atau tangannya sedang terkena serangan keram.


Tapi kemudian otak cemerlang nya mengirim sinyal bahwa ada sesuatu yang salah. Secepat kilat dia menyadari bahwa di jalan itu diberlakukan satu arah sampai jam sebelas. Dia biasanya melewati jalan itu sore hari.


Jelas sekali tergambar dalam data base kepalanya bahwa sekitar 300 meter di depan ada pos polisi dan lima sampai enam polisi sering terlihat menjalankan tugas mulianya. Kalau ketemu dia bisa bahaya. Memang sih kita bisa beramah tamah dan bersilaturahim, tapi ujung ujungnya isi di kantong yang tidak seberapa ini akan semakin menipis. Atau hatrus beurusan dengan pak hakim dan pak jaksa. Kapan saya akan disidang? Sudah tiga …


Di depan ada belokan menuju pearumahan sebuah BUMN kemudian dia belok untuk cari jalan tikus. Perlu dimaklumi , di daerah ini banyak tikus membuat jalan dan jalan itu sering digunakan oleh manusia. Untungnya, para tikus tidak pernah marah.


Setelah berkelok kelok sebentar ahirnya dia sampai juga ke jalan yang benar. Lega lah hati Mr. Amat. Setelah sekian menit, dia melihat dua motor polisi bergandengan mesra sambil berjalan pelan. Dalam hati Mr. Amat tersenyum seolah olah telah memenangkan sebuah undian berhadiah. Hatinya juga semakin tanang karena dekat dengan pengayom masyarakat ini.

Karena dua kendaraan polisi itu Berjalan santai dengan mudah Kendaraan Peking Mr. Amat melewati dua kendaraan halilintar pak polisi. Sekarang dia memimpin. Dan jauh memimpin. Sekarang fokus ke depan.


Ketika Mr. Amat sedang asik memacu kencang kendaraanya, anda sebetulnya bisa maklum seberapa kencang, sih, bebek peking bisa malaju, tiba tiba tepat di sebelah kiri sejajar ada kendaraan lain dan sang pengendara mengibaskan tangan meminta saya untuk minggir. Jelas sekali bukan karena keram tangan, tapi Pak Polisi.


Dengan tenang karena merasa tidak berbuat salah dia meminggirkan motor dan ketika sudah berhenti, dia bertanya, “Ada apa, Pak?”


“Selamat pagi, Pak!”, dia menghampiri tanpa menjawa pertanyaan Mr. Amat.


“Bisa lihat STNK dan SIM nya?” dia melanjutkan kemudian mengamati STNK dan AIM setelah Mr. Amat menyerahkannya.


“Bapak mau berangkat kerja?”, dia berbasa basi. Mr. Amat menjawab seperlunya.


“Bapak tadi menyalakan lampu tidak? Coba jawab dengan jujur!”, sekarang dia bertanya

dengan gaya interogasi dan menyudutkan.


Mr. Amat mengamati bebek pekingnya. Dia juga tidak menyadari kalau lampu nya nyala atau tidak. Dia tipe orang pelupa. Dan dia tidak terlalu sering menyalakan lampu motornya. lagi pula selama ini tidak pernah ada masalah walau pun lampu motornya tidah menyala dan berpapasan dengan polisi.


“Tidak, Pak”, jawab Mr. Amat dengan jujur tanpa berusaha untuk mengelak atau mencari cari alasaan.


“Bapak sekarang tahu kan pelanggaran yang telah Bapak lakukan?”, kata polisi berkumis mirip suami Inul itu penuh kemenangan. Selanjutnya dia berceramah tentang peraturan menyalakan lampu motor di siang hari dan blab la bla dan blab la bla…


Kemudian dia membuka buku yang berisi peraturan-pereturan lalulintas dan menunjuk peraturan menyalakan lampu dengan lebih focus pada berapa besar denda yang harus saya bayar kalau harus sidang. Di situ tertulis angka Rp 100.000. saya tidak terlalu memperhatikan apakah itu denda minimal atau maksimal. Tapi uang sejumpah itu lumayan lah.


“Jadi bagaimana, Pak? Bapak mengerti?


“Ya, pak”, Mr Amat mengakui kesalahannya dengan jentelmen. Kemudian da melanjutkan, “ kalau tidak sidang bisa nggak, Pak?” Mr. Amat sedang mencoba bemain api.



“Bapak punya berapa?”, Pak Polisi menggigit umpan Mr. Amat, dan permainan yang sesungguhnya segera dimulai.


“Rp 20.000”, jawab Mr. Amat. Kepalanya masih mengingat dengan jelas bahwa di kantong celananya ada uang Rp. 40.000 pengembalian waktu mengisi bensin. Sedianya dia ingin menyebutkan angka Rp 10.000, tapi takut Pak Polisi yang terhormat merasa tersinggung dengan jumlah yang hanya cukup semangkok bakso itu.


“Dendanya aja bisa Rp. 100.000, dan saya juga masig dapat bagian dari denda itu. Masa Rp 20.000?” dia berjuang untuk jumlah yang lebih terhomat.


“Bagaimana kalau Rp 30.000” Timpal Mr. Amat tanpa fakir panjang.


“Setengahnya, ada nggak? Pak Polisi masih gigih berjuang.


“Aduh, nggak ada, Pak.”


“Kalau begitu saya tilang saja”, kemudian dia menyebutkan kemungkian hari, tanggal, dan jam persidangan.


“Ya udah, tilang saja, deh, Pak!”, Kata Mr. Amat tanpa nada menantang.

Kemudian sang pengayom itu mulai menuliskan sesuatu di buku tilang, tapi baru menulis satu dua kata, dia berhenti dan mencoba berbasa basi dengan menanyakan kembali tempat tinggal Mr. Amat dan lain lain dan lain lain.


Kemudian dia bertanya, “Jadi bagaimana, ada nggak setengahnya?”. Dia mengecap ludahnya sendiri.


“Ya, seperti saya bilang tadi, Pak. Kalau segitu, saya nggak bisa.” Mr. Amat bertahan dan berfikir lagi untuk menghindari sidang yang kemungkinannya panjang dan melelahkan.


“Ya, udah. Ikuti saya dan siapkan uangnya.” Sahut Pak polisi smbil menaiki motornya dan berlalu.


Sejenak Mr. Amat termangu dan tersenyum tanpa mampu mengartikan apa arti senyum nya. Sebelum penyakit lupa nya sempat menelikung, segera dia menaiki motornya dan mengkuti Pak polisi.


Setelah kurang lebih tiga ratus meter dia berhenti di tempat yang strategis. Tidak jauh dari tempatnya berhenti rekan-rekannya sedang melakukan tugasnya, menilang pengendara motor.


Selanjutnya Mr. Amat tidak banyak memperhatikan apa yang rekan-rekannya lakukan.

Setelah berhenti Mr. Amat menghampiri Pak polisi dengan lembaran sepuluhan ribu di tangannya. Setelah dekat pak polisi memberikan perintah, “Masukan ke sini”, sambil membuka kotak kaleng mirip kotak amal di mushola di belakang motornya.


Setelah fulus masuk, dia bertanya lagi, “Berapa, tadi?”


“Rp. 30.000” Sahut Mr. Amat.


Selanjutnya Pak polisi dengan kesadaran tinggi mengembalikan STNK dan SIM Mr. Amat diiringi doa semoga Mr. Amat tidak ketemu dia lagi ketika melangar peraturan lalulintas. Win-win solution pun tercapai. Artiya polisi menang dan menang lagi. Sedang Mr. Amat Cuma bisa gigit jari dan baru berhenti setelah jarinya terasa sakit karena digigit terlalu keras.


Kasian amat!